menghitung hpp

Cara Menghitung HPP Untuk Bisnis Kuliner

Swakarta.com – Berkecimpung di dalam dunia bisnis anda tidak hanya membutuhkan yang namanya tekad dan modal saja. Anda juga perlu memahami berbagai macam hal yang mendasar seperti bagaimana cara menghitung HPP atau Harga Pokok Penjualan. Kenapa seorang pebisnis harus memahami tentang perhitungan HPP? Salah satunya gunanya yaitu supaya mengetahui berapa total modal yang anda butuhkan untuk memperoleh suatu produk. HPP juga anda butuhkan ketika perhitungan yang lain. Khususnya lagi pada bisnis kuliner, berikut bagaimana cara menghitung HPP yang benar.

Cara menghitung HPP untuk bisnis kuliner

Berkenalan dengan HPP

HPP sangat sering dipakai orang-orang dalam pembahasan di dunia bisnis, akuntansi, dan ekonomi. Namun orang-orang yang belum berkecimpung dalam bidang tersebut mungkin akan terdengar asing dengan istilah yang satu ini. Seperti yang kita disebutkan tadi, HPP merupakan singkatan dari Harga Pokok Penjualan. HPP juga banyak dikenal dengan nama Cost of Good Sold (COGS) dalam bahasa Inggrisnya.

Definisinya adalah seluruhan modal atau biaya yang dibutuhkan oleh seorang pebisnis atau perusahaan untuk mendapatkan produk atau bahan pokok. Produk tersebut yang nantinya dipasarkan kepada para konsumen. HPP ini berbeda dengan harga jual, Anda mesti memahami hal ini sejak dari awal. Pengertian harga jual adalah harga yang harus dibayar oleh seorang konsumen kepada orang yang menjual barang tersebut.

1. Food Cost Ideal

jari seorang yg sedang memencet tombol sebuah kalkulator untuk menghitung nilai food cost ideal buat hpp Perhitungan food cost ideal selalu dilakukan pada awal untuk dijadikan menjadi pedoman di perhitungan yang selanjutnya, yaitu food cost aktual. Pada idealnya, food cost untuk sebuah makanan ada pada angka 20 sampai 35%. Cara untuk menghitung nilai ideal tersebut sudah ada rumus bakunya, yakni modal kemudian dibagi dengan harga jual, dikali dengan 100%.

✅ BACA JUGA:   Cara Mendaftar Bank Mandiri Secara Online

Jika dijadikan dalam bentuk sebuah rumus maka menjadi: (Modal/harga jual) x 100%, Agar lebih mudah anda pahami, anda akan diberikan sebuah contoh perhitungan food cost yang ada pada usaha makanan seblak. Pada satu porsi seblak kita akan membutuhkan bahan dengan rincian modal seperti berikut:

  • Kerupuk= Rp 500
  • Makroni= Rp 750
  • Mi keriting= Rp 250
  • Sosis= Rp 750
  • Bakso= Rp 1.000
  • Siomay= Rp 1.000
  • Telur ayam= Rp 2.000
  • Bumbu-bumbu= Rp 1.000
  • Gas untuk memasak= Rp 750

Dari detail yang di atas, anda dapat menghitung total modal awal untuk satu porsi seblak yaitu Rp 8.000. Selanjutnya, anda tentukan harga jual yang anda inginkan untuk satu porsi seblak tersebut. Misalnya dengan Rp 27.000. Selanjutnya, baru bisa anda hitung berapa persentase dari food cost yang idealnya. Anda bisa menggunakan rumus yang sudah disebutkan pada bagian atas, seperti berikut perhitungannya.

  • Food cost = (Modal/harga jual)x100%
  • Food cost = (Rp 8.000/Rp 27.000)x100%
  • Food cost= 29,6%
✅ BACA JUGA:   Cara Kredit Di lazada! Simak Berikut Ini

Dari perhitungan yang di atas bisa didapatkan angka ideal yaitu 29,6%. Angka tersebut sudah dalam kategori yang cukup aman dan sesuai dengan standar food cost bisnis makanan.

2. Food Cost Aktual

Untuk mengetahui apakah food cost ideal yang tadi sudah seusai dengan kenyataan atau masih belum, maka anda bisa menggunakan perhitungan food cost aktual. Nah, ketika anda menghitung nilai dari food cost aktual, Anda juga harus menghitung nilai dari HPP-nya terlebih dahulu. Yang artinya, Anda mesti harus memiliki data awal persediaan, pembelian yang anda lakukan untuk persediaan, serta termasuk juga persediaan di akhir setelah dilakukan stock barang. Setelah anda mengetahui nilai dari HPP, selanjutnya Anda bisa menghitung food cost aktual. Berikutnya bisa anda bandingkan dengan food cost ideal. Supaya anda tidak bingung simak cara berikut :

Menghitung HPP

Contohnya, jika sebuah warung seblak memiliki persediaan sebanyak 25 porsi. Maka total modal yang dikeluarkan untuk persediaan awal tersebut adalah 25 x Rp 8.000 = Rp 200.000. Sementara stok untuk 7 hari ke depannya, warung harus membeli bahan baku sebanyak untuk 200 porsi. Perhitungannya menjadi 200 x Rp 8.000 = Rp 1.600.000.

Setelah anda lakukan perhitungan, sebelum melakukan penjualan atau stock opname, ternyata masih ada 5 porsi untuk persediaan akhir seblak. Nilainya = 5 x Rp 8.000 = 40.000. Sekarang saatnya anda untuk menghitung HPP dari data tadi menggunakan rumus berikut:

  • HPP = stok awal + pembelian stok + stok akhir
  • HPP = Rp 200.000 + Rp 1.600.000 + Rp 40.000 = Rp 1.760.000
✅ BACA JUGA:   Cara Kerja Saham! Kamu Harus Paham

Menghitung Food Cost Aktual

Karena anda sudah mendapatkan nilai HPP, sekarang Anda bisa menghitung food cost aktual. Contohnya, jumlah seblak yang laku = 210 porsi, harga jualnya Rp 27.000 per porsi. Jadi pendapatan yang anda peroleh adalah 210 x Rp 27.000 = Rp 5.670.000. Rumus food cost aktual sebagai berikut:

  • Food cost aktual = (HPP/ total nilai yang terjual) x 100%
  • Food cost aktual = (Rp 1.760.000/Rp 5.670.000) x 100% = 31%

Nilai food cost aktual memang pada umumnya lebih besar jika dibandingkan dengan food cost ideal. Hal tersebut terjadi karena pada setiap proses pembuatan makanan tersebut sudah pasti ada bahan yang terbuang sia-sia. Karena banyak faktor, misalnya saja bahan baku yang rusak, busuk, dan lain sebagainya.

Jika selisih yang didapatakan tidak terlalu besar, maka hal tersebut tidak terlalu menjadi persoalan. Anda hanya perlu waspada jika nilainya yang didapatkan lebih besar, misalnya hingga 20%. Jika hal tersebut terjadi, maka artinya terjadi pemborosan selama proses pembuatan makanan tersebut. Maka anda  harus melakukan evaluasi dan perbaikan agar hal tersebut tidak terjadi lagi.